Cerita Pendek Telling dan Showing

Tema: Februari Kelabu

           Senja di Akhir Fabruari

           Barokatus Jeh
            
    Semburat senja tenggelam ke peraduannya. Burung-burung bergerombol dan membentuk formasi menambahkan kesan indah di langit. Awan-awan tersenyum menggantung. Riak ombak sedari tadi hanya tenang. Walaupun sesekali menggulung air ke bibir-bibir pantai menyirami pasir yang kepanasan satu hari full.
        Seorang gadis duduk di sana. Sembari menundukkan wajahnya yang sembap sebab menangis. Rambutnya yang panjang tersibak angin ke sana ke mari. Tetapi tak dipedulikannya. Ia menekuk lututnya dan sesekali memandang nanar ke arah senja.
      Senja baginya hanyalah seonggok kenangan yang membuat hatinya berdesir tak keruan. Membuat seluruh napasnya tersengal dan membuat pipinya basah oleh air mata.
      Sepuluh tahun lalu, ketika ia masih berumur  delapan tahun. Ia sangat menyukai senja. Bahkan rela berjalan kaki hanya untuk melihat keindahan langit itu. Kesukaannya terhadap senja tersebut membuatnya lupa makan dan meninggalkan berbagai kegiatan.
     "Ayo makan dulu nak Sarah?" Tangan tuanya melambai ke arah gadis itu. Tanda dia khawatir terhadap putri kecilnya yang belum makan sedari pagi. Hanya untuk melihat senja di sore hari.
     "Aku sedah dewasa yah?" protesnya sambil merengut dan menyedekapkan tangannya ke dadanya.
     "Ayah, kan hanya bawa makanannya. Bukan menyuapin."  Tangan kirinya membawa makanan yang sudah dibungkus dengan daun pisang, sedangkan tangan kirinya membawa botol minuman. Ada gurat lelah diwajahnya. Tetapi gadis itu terlampau asyik dengan mainan barunya. Sehingga ketika Ayahnya batuk mengeluarkan darah gadis itu tidak tahu.
     Baru setelah senja tenggelam. Gadis kecil itu mau makan. Gadis kecil itu melahap semua makanan yang dibawa oleh ayahnya. Ayah hanya tersenyum senang.
     "Pokoknya masakan Ayah memang terhebat di seantero dunia." Sembari mengangakat jempolnya ke depan wajah Ayah. Sedangkan Ayah hanya tersenyum.
    "Yah ...?" Menatap wajah tua ayahnya.
     "Iya nak, kenapa?" Ayah tersenyum memandangnya.
    Tetapi gadis kecil itu urung bertanya. Takut-takut Ayah marah dengan pertanyaanya. Tetapi dadanya semakin sesak oleh pertanyaan yang belum pernah ia pertanyakan. Pertanyaan tersebut telah mengendap dalam dadanya selama seminggu.  Dengan napas berat akhirnya ia berani bertanya.
      "Yah ...,?" hati-hati ia berucap.
      "Kenapa putri kecilku?"
      "Bolehkah aku bertanya sesuatu hal, tapi Ayah jangan marah." Wajahnya memelas.
      Ayah hanya tersenyum melihat tingkah putrinya.
     Sepuluh menit berlalu dan tidak ada tanda gadis kecil itu hendak bertanya. Hanya ada suara azan berkumandang dan pohon-pohon bergoyang tersebab angin yang menerjang. Akhirnya ia tak tahan.
     "Yah mengapa harus sekolah? Ada apa di sekolah?  Bisakah sekolah memberikan senyum Ibu kembali? Bisakah ...," Gadis itu tidak melanjutkan ucapannya. Ia menangis tergugu.
    Ayah mengerti kesedihan putrinya. Sebab Ibunya meninggal ketika ia masih berumur tiga tahun, dan belum mengerti apa itu arti kematian. Lantas ia hanya memeluk gadis kecilnya erat dan menjelaskan panjang lebar mengapa ia harus sekolah. Menceritakan hal unik di sekolah. Apapun menyenangkan tentang sekolah. Gadis kecil itu hanya terdiam sembari berjalan pulang mengekori Ayahnya. Ia malu bila menangis di depan Ayahnya.
      Sebab motivasi itulah gadis kecil itu akhirnya mau sekolah. Setelah sebelumnya susah sekali untuk diajak sekolah dan selalu marah-marah jika Ayahnya berkata 'sekolah'.
     Sekolah baginya hanya membuang waktu dan tidak bisa di samping Ayahnya selalu. Sekiolah baginya sesuatu yang menakutkan. Sebab, mereka selalu mempertanyakan di mana Ibunya sekarang dan itu membuatnya memikirkan jawaban yang tepat. Karena dulu gadis kecil itu pernah sekolah selama seminggu. Dan itu sukses membuatnya tidak mau sekolah karena gadis kecil itu tidak punya Ibu.
     Di suatu siang yang terik.
     Gadis kecil itu berselonjor di dipan kayu teras rumahnya. Sembari mengguncang-guncangkan kakinya. Tangan kanannya mencomot pisang goreng yang masih mengepul dan meniupnya perlahan-lahan. Ayah hanya tersenyum melihat tingkah putrinya. Lantas ia duduk di samping putrinya.
      "Yah, aku suka sekolah sekarang. Ternyata menyenangkan yah, teman-temanku baik-baik."
      "Baguslah kalau kamu suka nak? Ayah senang mendengarnya.
      Sejak saat itu gadis kecil itu menyukai sekolah. Malah ia menjadi juara umum dan selalu dibawa ke Provinsi guna mengikuti lomba mewakili sekolahnya.
     Hari ini ia akan mengikuti cerdas cermat se-Kabupaten. Tetapi belum ada tanda-tanda Ayahnya muncul. Ayahnya berjanji untuk kali ini akan datang di acara lombanya. Setelah sebelumnya tidak pernah datang dikarenakan melaut di pantai. Dan gadis kecil itu memakluminya. Gadis kecil itu sangat berharap Ayahnya datang. Tetapi sampai lima menit terkhir Ayahnya belum juga datang. Ia menangis tersedu sebab juara langsung diumumkan. Ia mendapat juara kedua.
      Sesampainya di rumah. Ia mencari-cari Ayahnya. Terapi tak juga ditemukan. Lantas ia berlari ke pantai.  Ke bibir pantai bertanya kepada orang-orang di mana Ayahnya. Tapi tak satupun menjawab. Mereka bermuram durja dan tak tega dengan jawaban sebenarnya.
     "Paman Arman,  di mana Ayah.  Lihat aku membawa piala lagi? Aku ingin bertemu Ayah." Paman Arman hanya diam.
    Lantas ia bertanya pada bibi Suni. Pun bibi hanya terisak dan memeluk gadis kecil itu dengan erat.
    Gadis kecil itu berjalan gontai tak keruan sebab mendengar berita tak mengenakkan dan pandangannya kabur, dunia serasa berputar. Ia pingsan.
              ****
    Sejak saat itu baginya bulan Februari adalah bulan kematian. Tersebab Ibu dan Ayahnya meninggalkannya sendirian di bulan itu. Perlahannya waktu, ia merelakan kepergian Ayahnya dan menjadi gadis cerdas yang membanggakan. Ia menjadi jurnalis Ibukota yang membawa nama baik desanya. Menjadi penulis dan  pembicara di mana-mana dan mensejahterakan masyarakat lewat ungkapannya.
      "Mbak-mbak kapan rilis novel lagi? Kami sudah tak sabar menunggu. Salah satu wartawan menghadangnya.
    "Bulan ini."
    "Judulnya mbak?"
    "Februari kelabu." Sembari melangkahkan kakinya menuju tempat mobilnya.

Ponorogo, 16/03/2019

Komentar

Postingan Populer