Cerita Pentigraf
Lolipop
Oleh: Barokatus Jeh
Di halaman teras Wak Alam. Anak-anak kecil bermain petak umpet, sembari tertawa riang. Mereka sengaja memilih teras tersebut dikarenakan Wak Alam telah mengizinkan mereka dengan syarat setelah bermain salah satu dari mereka memijat pundak Wak Alam. Alhasil banyak yang tertarik. Sebab disamping memijit. Mereka mendapatkan jatah makanan. Walaupun itu hanya sebatas pisang goreng. Juga mendapatkan dongeng menakjubkan.
Malam ini adalah malam Jumat. Tetapi anak-anak tetap bermain. Di tengah-tengah permainan suara angin bergesekan satu sama lain. Mereka melongo mendengarnya. Hari ini yang bermain hanya ada lima orang. Biasanya sekitar lima belas orang. Sepuluh orang lainnya mengikuti pengajian di balai desa. Sedangkan mereka malah tetap bermain.
"Lek, Wak Alam pergi pengajian dulu. Ikut apa di sini?"
"Kenapa ke sana Wak?" tanya Randi. Anak yang paling jangkung.
"Mau mencari ilmu dan mendengarkan Kiai mengaji."
Mereka hanya ber-oh panjang dan tidak berniat ikut pengajian.
Wak Alam hanya tersenyum simpul. Lantas melangkahkan kaki meninggalkan mereka.
Hawa dingin menyusup ke pori-pori mereka. Tetapi tidak digubrisnya. Mereka tetap asyik main.
Suara gesekan angin semakin lama semakin terdengar. Membuat bulu kuduk mereka merinding. Permainan dihentikan. Mereka bermain adu gasing dengan sorak sorai bergembira. Tiba-tiba Badu melihat bayangan putih lewat di depan teras Wak Alam.
"Di, aku melihat orang baju putih?"
"Paling-paling bapak-bapak mau pengajian." Jawab Tomo anak paling cungkring sendiri.
"Tapi aneh jalannya?"
"Ah itu hasulinasi kamu saja? Jawab Pepet.
"Halusinasi Pet, bukan hasulinasi." Jawab Memet. Memet adalah kembarannya Pepet.
Pepet hanya ber-oh pelan.
Sebenarnya di hati mereka menyimpan ketakutan luar biasa tetapi, dibiarkan begitu saja.
Karena Badu penasaran. Ia melangkah kakinya menuju teras Wak Alam dan matanya terbelalak mendapati lolipop beneran masuk di rumah Wak Alam.
"Teman-teman beneran ada lol ... lol ...," napasnya tiba-tiba tercekat.
"Apaan sih Du? Lol apa lolongan anjing.
Hahahaha mereka tertawa bersama.
"Atau Lolololobang tikus." Jawab Pepet.
"Lontong manis." Jawab Memet.
Mereka tertawa lagi.
Badu bingung menjelaskan. Akhirnya ia kencing di celana karena ketakutan. Mereka lagi-lagi tertawa cekikikan.
Suara pohon bergoyang dan serempak mereka berucap han ... tuuuuuuuuuuuu. Sekarang giliran Badu tertawa.
Badu berkumpul bersama temannya dan mereka melihat bayangan itu lagi.
"Ampun hantu ... Kami salah, kami akan giat ngaji di surau dan tidak jahil lagi." Seloroh Randi. Dan mereka lari terbirit-terbirit.
Rami tertawa terbahak-bahak mengerjai mereka yang memang lebih banyak bermain dibandingkan mengaji.
Ponorogo, 16/03/2019
Komentar
Posting Komentar